
Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Lamaru Ninik Nuryati mengapresiasi dan sangat mendukung adanya kelompok tani usaha budi daya rumput laut, dan menjadi motifasi dalam peningkatan ekonomi warga masyarakat.
“Kelurahan Lamaru sangat mendukung sekali. Adanya kelompok tersebut bisa membantu untuk menambah penghasilan bagi keluarga dan warga Lamaru,” ujarnya.
Selain itu, kelurahan berharap supaya kebersihan lingkungan pantai agar dijaga selain untuk budi daya rumput laut. “Jangan sampai kebersihan lingkungan dan ketertiban diabaikan dan dilupakan,” ungkapnya.
Ketua Kelompok Tani Rumput Laut Cikal Bahari Mandiri Sarni mengatakan, potensi budi daya rumput laut yang terbilang besar di Balikpapan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar.
Sarni menuturkan, sebelum mengembangkan di wilayah Lamaru, dia sudah memulai dan menekuni budi daya rumput laut tersebut sejak 2005 di Teluk Waru, Balikpapan Barat.
Dengan mendatangkan sebanyak 1 ton bibit dari Kota Baru, dan berhasil mengembangkannya namun berjalannya waktu wilayah tersebut sudah masuk kawasan industri.
Kemudian 2006–2007 mengembangkan lagi ke pesisir Teritip dan membentuk tiga kelompok tani. Enam bulan kemudian menghasilkan rumput laut kering sebanyak 6 ton dengan jumlah anggota 18 orang.
“Pertama kali rumput laut Balikpapan keluar daerah dan dikenal masyarakat luas hasil dari kelompok tani budi daya rumput laut Teritip,” jelasny.
Setelah itu, pindah lagi di belakang Asrama Haji Manggar dan masuklah masyarakat menjadi anggota dan terus berkembang.
Sebagai perintis di berbagai wilayah pesisir Balikpapan, Sarni pertama kali membentuk kelompok tani rumput laut diberi nama Sumber Makmur yang mendapatkan izin dan penghargaan dari dinas yang bersangkutan.
“Memang dari awal pembentukan kelompok tani rumput laut ingin mengenalkan dan memasyarakatkan rumput laut itu, yang menjadi satu kegiatan untuk kebutuhan orang banyak dalam mendapatkan penghasilan tambahan, khususnya bagi nelayan-nelayan yang berada di pesisir pantai Balikpapan,” bebernya.
Di Lamaru anggotanya sudah berjumlah 16 orang, dengan baru dimulai setahun lalu dengan luasan lumayan besar, dan ada beberapa hektare cukup membantu warga sekitar. Namun, awalnya cukup lamban pergerakan di wilayah Lamaru karena bergerak sendiri, akhirnya warga sekitar tertarik mengikutinya setelah melihat beberapa kali kegiatan panen maupun mengelola rumput laut yang benar yang dapat menghasilkan pemasukan.
Dan di sini (Lamaru) juga membuka praktik untuk anak-anak sekolah pelayaran. Masyarakat yang di dalamnya ada pelajar juga, ibu-ibu dan petaninya. Dengan penghasilan panen berkisar 25 ton seharga Rp 35 ribu per kilogram, dinilai mampu memenuhi keinginan pasar.
“Budi daya rumput laut ini merupakan kegiatan yang sangat menjanjikan dan memang untuk menyejahterakan petani nelayan khususnya, bahkan sudah dikirim ke sejumlah daerah,” sambungnya.
Namun, pasti ada gangguan yang kerap terjadi baik dari cuaca seperti angin selatan dan hujan, sehingga hasilnya menurun. Termasuk dari adanya gangguan nelayan Dogol yang memang sudah dilarang pemerintah karena merusak biota laut.
Menurut dia, petani rumput laut di Balikpapan masih sangat sedikit, karena belum mengerti akan hasil yang diperoleh. Pihaknya sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dalam kelompok budi daya rumput laut.
Sarni berharap dalam waktu dekat keinginannya mempersatukan kelompok-kelompok nelayan untuk dapat bekerja sama dalam mengembangkan budi daya rumput laut, agar semakin bagus dan besar hasil produksi di Kota Balikpapan.
“Adanya kelompok tani rumput laut adalah untuk masyarakatnya, untuk meningkatkan kesejahteraan mereka juga, peningkatan ekonomi yang juga sangat menjanjikan bagi masyarakat,” kuncinya.