
LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com - Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Global Environment Facility melalui Yayasan WWF Indonesia menyelenggarakan pelatihan bagi pembudidaya rumput laut Teluk Seriwe, Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, selama 2 hari, sejak 30 sampai 31 Juli 2022.
Hal itu dilakukan sebagai upaya perbaikan dan peningkatan kapasitas pembudidaya rumput laut Teluk Seriwe, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari pemenuhan indikator Prinsip Kesejahteraan dan Pemerataan pada kawasan Akuakultur Dengan Pendekatan Budidaya (ADPE).
ADPE merupakan strategi integratif antara aspek lingkungan dan sosial pada perikanan budidaya untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.
Terdapat tiga prinsip ADPE yang perlu dipenuhi dalam suatu kawasan, diantara Prinsip Keberlanjutan Ekosistem yang mencakup dampak budidaya terhadap ekosistem lingkungan, Prinsip Kesejahteraan dan Pemerataan yang mencakup sosial-ekonomi komunitas budidaya.
Terakhir, Prinsip Tata Kelola dan Sinergitas yang mencakup kelembagaan dan legalitas. Ketiga prinsip tersebut bersifat saling bersinggungan untuk menciptakan kegiatan budidaya perikanan (akuakultur) yang memperhatikan ekosistem lingkungan dan manusia.
Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pembudidaya untuk menyiasati produktivitas budidaya rumput laut Teluk Seriwe yang belakangan ini dinilai belum optimal.
Pada kesempatan itu, seorang ahli budidaya rumput laut dari UNIDO (Organisasi Pembangunan Industri-Perserikatan Bangsa-Bangsa), Boedi Sardjana Julianto memandu kegiatan pelatihan.
Ia menjelaskan bahwa pembudidaya perlu memiliki alasan yang kuat untuk berbudidaya rumput laut agar usaha dapat ditekuni dengan maksimal.
Selain itu, pembudidaya juga harus dapat melihat potensi lahan dengan cermat. Dalam hal lokasi, Boedi menyarankan untuk memilih lokasi yang tidak ramai dan di perairan dalam.
“Seperti manusia, rumput laut juga mudah sakit jika hidup di kondisi yang tidak nyaman. Kita harus teliti dalam mencermati kondisi air supaya bisa menunjang pertumbuhan dan kehidupan rumput laut,” jelasnya.
Materi-materi pelatihan diisi dengan cara penanganan penyakit, pembibitan, manajemen limbah, hingga penanganan pascapanen.
Hal ini selaras dengan kondisi rumput laut di Teluk Seriwe yang belakangan ini sering terkena hama penyakit ice-ice dan hama lumut.
Menurutnya, penyakit ice-ice dapat ditangani jika pembudidaya dapat mencermati potensi lahan, serta teknik rendam dan pengeringan untuk membasmi hama lumut.
“Lebih mudah dilakukan dari pada mengambil lumutnya satu per satu,” ujar Boedi.
Selain itu, Boedi juga menjelaskan bagaimana cara mengolah rumput laut dengan kualitas yang bagus, serta menekankan supaya para petani rumput laut memperhatikan kebersihan untuk mendapatkan kualitas yang bagus sehingga rumput laut di Seriwe dan NTB pada umumnya bisa dikenal lebih luas.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari pemerintah setempat, dalam hal ini Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Timur, Sumaryadi. Dirinya mengutarakan dukungannya bersama jajarannya terhadap kegiatan pelatihan ini dan program ADPE secara keseluruhan dalam pembukaan acara.
ADPE dipandang selaras dengan program pemerintah yang akan menetapkan Teluk Seriwe sebagai Kampung Budidaya Rumput Laut pada tahun 2023. “Harapannya, ADPE bisa membantu produksi kita kearah yang lebih baik,” pungkasnya.