
1. Pengeringan Dengan Para-Para
a. Alat
- Bambu utuh : 4 x 10 m + 8 x 0.75 m + 2 x 1.5 m
- Bambu belah : 2 x 10 m + 50 x 4 m
- Jaring 4 m x 10 m
- Terpal 6 m x 10 m
- Paku 5 kg
- Tali nilon 10 m
b. Kerangka Alat
Gambar 1 : Alat Pengering Para-Para
Penjemuran dengan menggunakan para-para dilakukan dengan cara menyiapkan dan membersihkan para-para dari kotoran. Kemudian meletakkan rumput laut di atas para-para secara merata (lihat Gambar 2), usahakan ketebalan tumpukan rumput laut sama Ketebalan yang disarankan maksimal 10 cm. Agar kering merata, rumput laut juga harus dibolak-balik sambil membersihkan kotoran yang masih melekat. Pada cuaca cerah pengeringan berlangsung 2 - 3 hari. Pada malam hari atau waktu hujan, rumput laut tersebut harus dikumpulkan di tempat teduh atau ditutup ditempat penjemuran dengan menggunakan terpal.
Gambar 2 : Cara Pengeringan Rumput Laut dengan Menggunakan Alat Pengeringan Para-Para
2. Pengeringan Dengan Jemuran Gantung (Hanging-Bar)
a. Alat
- Bambu utuh : 5 x 10 m + 6 x 1.50 m + 6 x 2 m + 2 x 0.5 m + 4 x 1.12 m
- Bambu belah 10 x 10 m
- Terpal 8 m x 10 m
- Paku 5 kg
- Tali nilon 1
b. Kerangka Alat
Gambar 3. Alat Pengering Bentuk Jemuran Gantung (Hanging-Bar)
Penjemuran dengan cara gantung dilakukan dengan mengikat rumput laut pada tiang jemuran (lihat Gambar 4), jadi pada waktu panen tali rumput laut tidak dilepas. Atur jarak ikatan rumput laut pada tiang jemuran agar tingkat kekeringan merata. Ketika pengeringan berlangsung tidak perlu dibolak-balik. Pada malam hari atau waktu hujan, rumput laut dapat langsung ditutup langsung ditempat penjemuran dan dibiarkan bermalam. Jika cuaca cerah pengeringan hanya berlangsung 2 - 3 hari.
Gambar 4 : Cara Pengeringan Rumput laut dengan Menggunakan Alat Pengering Jemuran Gantung (Hanging-Bar)
Kelebihan teknik penjemuran dengan para dan gantung juga mudah dioperasikan dan beberapa petani sudah mulai menggunakan cara ini, terutama para-para. Selain itu biaya yang dikeluarkan juga relatif murah dan alat-alat pembuatan mudah ditemukan. Waktu pengeringan dapat lebih cepat, kemungkinan terkontaminasinya rumput laut dengan benda-benda asing dapat ditekan, sehingga mutu rumput laut yang dihasilkan bisa lebih baik. Secara sederhana, pengeringan dengan cara hanging-bar dianggap yang terbaik di tingkat petani karena rumput laut tidak mengalami banyak benturan fisik apalagi pematahan thallus. Rumput laut yang diambil dari tali ris dengan cara dipatahkan bisa menyebabkan luka fisik pda thallus yang disertai keluarnya getah pada bagian tersebut. Hal ini diduga menjadi penyebab rendahnya kadar karaginan rumput laut kering. Rumput laut yang dikeringkan dengan cara atau teknik gantung ini juga dianggap memiliki kadar kotor yang lebih rendah, tingkat kekeringan yang merata tanpa perlu dibalik.
Sedangkan, kelemahan pengeringan dengan kedua cara di atas yaitu petani harus menyiapkan biaya dan lahan untuk penempatan alat pengering. Selain itu, selama ini di beberapa daerah para pembeli (pedagang pembeli) masih memukul rata semua rumput laut kering dengan harga yang sama. Sehingga para petani berpikir, buat apa repot-repot membuat alat pengering karena hal tersebut hanya menambah biaya produksi. Hal ini harus diantisipasi mengingat mutu rumput laut yang dihargai dan diminta sampai dipabrik adalah rumput laut yang mutunya baik sesuai dengan
Standar Nasional Indonesia atau sesuai dengan praktek
Good Manufacturing Practice (GMP).
Bervariasinya teknik pengeringan tersebut disebabkan oleh faktor sumberdaya manusia. Hal ini terkait dengan pemahaman pembudidaya rumput laut tentang kualitas rumput laut kering dan industri karaginan, kebiasaan dan budaya masyarakat dan kondisi sumberdaya alam dan buatan.