
Sejumlah armada kapal laut di Nunukan mulai mengurangi kuota pengangkutan barang, terutama komoditas unggulan rumput laut.
Imbasnya, banyak rumput laut yang terpaksa tertahan di gudang-gudang di Nunukan.
Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Nunukan, Kamaruddin mengungkapkan, perlu kehadiran instansi terkait agar dicarikan solusi bersama.
Sebab, dia melihat persoalan ini terletak pada armada pengangkutan yang minim.
“Kami juga tidak menyalahkan kapal-kapal lain yang mengurangi jumlah kuota rumput laut karena memang saat ini masuk musim penumpang,” ujarnya kepada Koran Kaltara, Senin (25/4/2022).
Sementara KM Haru yang menjadi pengangkut terbanyak rumput laut di Nunukan, kata dia, juga belum mampu mengangkut seluruh hasil produksi rumput laut Nunukan.
“Tapi, alhamdulillah, adanya kapal ini membantu nelayan. Kemarin, perdananya muat lebih 10 ribu karung atau seribu lebih ton rumput laut,” ujarnya.
Meski sudah mengangkut seribu ton lebih, ternyata masih banyak rumput laut yang sudah dimuat di atas truk tidak diangkut oleh kapal berkapasitas 1.500 ton tersebut.
“Bahkan, rumput laut yang ada truk di samping kapal itu kembali, karena sudah kepenuhan. Saya saja, tiga mobil dikembalikan,” jelasnya.
Kapal yang mengangkut rumput laut, kata dia, adalah KM Thalia yang kini hanya mengangkut 4 ribu karung.
“Artinya kami per orang itu, hanya mengirim 80 karung, karena 4 ribu karung inilah kita bagi-bagi. Kalau Pelni itu hanya membantu saja, kadang angkut 10 truk, terkadang kurang,” jelasnya.
Sementra untuk tol laut, kata dia, hanya mengangkut 70 kontainer.
Dia menilai kurangnya jumlah pengangkutan sudah dirasakan sejak beberapa bulan lalu.
“Kita setiap hari ada produksi rumput laut. Apalagi, saat ini produksi kita meningkat antara 10 ribu karung hingga 12 ribu karung per minggu. Kalau dulu kan hanya 8 ribu karung produksi kita,” jelasnya.
Jika hal ini tak disikapi dengan segera, kata dia, maka akan berimbas kepada petani maupun rumput laut di Nunukan.
Salah satunya harga rumput laut di petani terancam turun.
“Karena kita sudah tidak bisa beli lagi kan, tertahan terus dan bertumpuk di gudang. Apalagi, kapal Queen Soya sampai saat ini belum masuk,” jelasnya.
Selain berimbas pada petani, tertahannya rumput laut juga berdampak pada pengusaha maupun pengepul rumput laut.
Hal itu dikarenakan rumput laut yang tertahan akan terus mengalami penyusutan setiap harinya.
“Contoh, dalam satu karung kan beratnya 100 kg, nah seminggu kemudian itu akan berkurang beratnya karena menyusut terus. Kemudian kalau harga turun, kita juga jual sesuai harga turun. Jadi, rugi besar kita kalau tertahan lama,” pungkasnya.