
PT. Jaringan Sumber Daya membawa 2 mahasiswa magang bernama Ulfa dan Didin dari Universitas Muhammadiyah Makassar untuk mengunjungi salah satu lokasi pembudidayaan rumput laut di Kabupaten Bantaeng. Kunjungan lapangan yang dilaksanakan pada Senin, 28 Maret 2022 didampingi oleh Khayzuran Afifah sebagai Staff Ahli UKM Jasuda. Sebagai mahasiswa yang berasal dari Program Studi Agribisnis, budidaya rumput laut menjadi hal yang sangat menarik perhatian meningat rumput laut adalah komoditas unggulan yang sedang trend di Indonesia Timur.
Berdasarkan informasi yang dirangkum oleh kedua mahasiswa, ada begitu banyak jenis rumput laut, akan tetapi hanya ada dua jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh para petani di Bantaeng yaitu jenis Spinosum dan Cottonii. Dari kedua jenis rumput laut tersebut, jenis spinosum lebih banyak dibudidayakan oleh para petani karena jenis tersebut paling tahan akan hama dan penyakit serta harga bibitnya yang relatif lebih murah. Berbeda dengan jenis Cottonii yang harga bibitnya mahal, pembudidayaannya juga tergolong sulit karena rentan terkena hama dan penyakit.
Dengan begitu, mereka menyimpulkan bahwa ketahanan Spinosum lebih kuat dibandingkan Cottonii.
Menurut Pak Natsir sebagai petani rumput laut, untuk rumput laut jenis spinosium basah dan kering hanya bertahan selama 1 tahun dikarenakan sifatnya yang cepat hancur, sedangkan cottoni lebih tahan lama bisa 3-4 tahun. Para petani menyebut rumput laut jenis Spinosum sebagai pemburu karena pertumbuhannya yang cepat. Harga bibit Spinosum yaitu Rp. 1.500/kg sedangkan Cottonii Rp. 5.000/kg.
Adapun mengenai pembibitan, para petani mengaku melakukannya secara bergantian misalnya hari ini si A, besok si B dan begitupun seterusnya. Mereka menentukannya dengan cara bertanya satu sama lain kemudian menentukan siapa yang akan melakukan pembibitan. Pemilihan rumput laut yang akan dijadikan bibit yaitu batangnya yang masih kecil, dan untuk pengikatan bibit, biasanya dikerjakan oleh perempuan atau ibu rumah tangga dengan nominal upah sebesar Rp. 2.500 / tali.
Ibu Nur Samsia sebagai salah satu pengikat rumput laut sejak tahun 2003 menuturkan bahwasanya dalam 1 hari ia menghasilkan 5-10 bentang tali. Bibit yg mau diikat sering dibawakan oleh petani langsung. Biasanya bibit tersebut memiliki berat sekitar ±50 kg atau 1 gerobak. Masa panen rumput laut jenis Spinosium yaitu sekitar 40-50 hari, sedangkan jenis Cottoni yaitu sekitar bisa 2 bulan atau lebih. Jenis spinosium masuk ke Bantaeng sekitaran tahun 2005.
Rumput laut yang baik adalah rumput laut yang terapung karena nutrisi yang banyak berada pada permukaan air. Selain faktor fisik perairan yang bagus, juga perlu didukung oleh nutrisi. Arus dan gelombang juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut. Pada musim hujan, pertumbuhan rumput laut sangat bagus karena hujan membawa banyak nutrisi dan zat hara masuk ke laut, sedangkan pada musim kemarau, pertumbuhan lambat karena nutrisinya lebih sedikit. Pak Wali selaku petani menyatakan bahwa ia pernah gagal panen cottonii selama ±1 tahun dikarenakan gelombang di laut terlalu kencang, maka petani tersebut merasa rugi dikarenakan dalam waktu 1 tahun tersebut tidak mendapat penghasilan.
Rumput laut spinosum yang bagus yaitu berwarna coklat karena ciri fisik tersebut menampilkan pertumbuhan yang baik, terpenuhinya zat hara, dan rumput laut dalam keadaan terapung, sedangkan yang berwarna putih umumnya rumput laut tenggelam. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh posisi bentangan yang melengkung sehingga ada posisi yang tenggelam dan mengapung.
Kedalaman rumput laut yang dianggap masih baik yaitu 20cm – 50cm. Apabila berada dikedalaman lebih dari 1 meter, maka rumput laut akan mengalami kerusakan pada batang. Rumput laut pada kedalaman lebih dari 1 meter dari permukaan, biasanya disebabkan karena rumput laut yang sudah besar dan semakin berat. Maka cara mengatasinya yaitu dengan menambahkan pelampung. Penggunaan pelampung tergantung dari usia, jika masih muda maka pelampung yang digunakan bisa 3-4 pelampung dalam satu bentang.
Rumput laut juga dapat terkena hama, penyakit dan gulma. Hama seperti ulat, cacing halus dan tiram, sedangkan penyakitnya seperti musim pancaroba atau pergantian musim, serta gulma seperti lumut. Pengaruh hama terhadap rumput laut tidak terlalu merusak karena hama hanya akan memakan sedikit sedangkan yang berbahaya untuk rumput laut yaitu penyakit dan gulma.
Cara mengatasi lumut pada rumput laut yang masih berada di laut yaitu dengan cara menenggelamkan rumput laut hingga kedalaman 1 meter. Karena kadar garam pada kedalaman satu meter lebih tinggi dan apabila lumut terkena kadar garam yang lebih tinggi, maka akan mati. Namun teknik ini dapat beresiko jika rumput laut terlambat dinaikkan karena akan ikut mati karena kadar garam, suhu dan nutrisi yang berbeda.
Pengeringan rumput laut menggunakan jaring adalah upaya pengurangan kadar air pada rumput laut yang lebih cepat daripada terpal. Rumput laut yang dikeringkan tidak dibersihkan terlebih dahulu dari sesuatu yang menempel seperti lumut karena pada proses pengeringan, sesuatu yang terbawa oleh rumput laut akan hancur dengan sendirinya. Ada beberapa petani yang membuat tempat khusus penjemuran rumput laut untuk mengurangi resiko bercampurnya rumput laut dengan tanah.