
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Tengah terus mendorong munculnya eksportir baru berskala besar. Terutama melalui Free Trade Agreement (FTA) Centre yang memberikan masukan bimbingan serta pendampingan kepada pelaku usaha khususnya UKM yang berpotensi ekspor.
Hal ini dinyatakan oleh Kepala Disperindag Jawa Tengah Arif Sambodo dalam peluncuran ekspor perdana rumput laut kering di Jalan Ampenan, Pelabuhan Tanjung Emas, Jumat (25/2).
''Seperti saat ini kami bersama CV Putra Haryanto Jaya dan CV Agung Warna Bumi meluncurkan ekspor perdana rumput laut kering jenis glacillaria sebanyak 90 ton ke negara Vietnam. Senilai 55.000 US Dolar atau senilai hampir Rp 800 Juta,''paparnya.
Lebih lanjut Arif menyambut baik ekportir-ekportir muda yang telah berhasil menembus pasar baru, yakni ekspor rumput laut ke Vietnam berskala besar dan non tradisional.
''Yang penting perusahaan yang melakukan ekspor ini terus terjaga kontinuitasnya, dan ada rencana ekpansi negara ekspor. Penjajakan terus dilakukan diantaranya ke Thailand,'' tandasnya.
Pihaknya lebih jauh memaparkan, ekspor nonmigas secara nasional dan termasuk Jawa Tengah saat ini sedang tumbuh luar biasa.
''Di Tahun 2021 (Januari hingga Desember) tumbuh 33 persen dengan nilai hampir 10 ribu juta US Dolar meskipun dihadapkan shipping mahal dan keadaan pandemi. Bisa dibayangkan apabila kondisinya tidak seperti sekarang ini, bisa dua kali lipatnya angka dari 10 ribu juta US Dolar. Oleh sebab itu melalui FTA Center dan program Business Matching kami terus mendorong terutama eksportir baru dari pelaku UKM,'' papar Arif Sambodo.
Disperindag Jateng juga memberikan kemudahan-kemudahan di antara memfasilitasi untuk pelatihan SDM, mempertemukan pelaku UKM dengan buyer. Termasuk memfasilitasi buyer yang menginginkan sampel.
Sedangkan Perwakilan CV Putra Harianto Jaya, Gumam Kurniadi Tama, sangat berterima kasih kepada FTA Centre Semarang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Disperindag Jateng yang terus mendorong kegiatan ekspor.
Sehingga bisa melakukan ekspor perdana rumput laut jenis Gracilaria ke Vietnam sebanyak 90 ton.
''Harapannya kami ekportir pemula bisa melanjutkan dan mempertahankan kontinuitas produk sesuai permintaan negara pengimpor. Selain terus mencari pasar baru, kami juga memikirkan bisa mengekspor dalam bentuk tepung rumput laut atau tepung agar-agar karena nilai jualnya lebih tinggi. Ini harus dipersiapkan pabrik pengolahan pula.
Langkah ini dapat memberikan dampak yang luas bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat, terutama para petani rumput laut yang tersebar di Pantai Utara Jawa, Karimun Jawa, dan Pesisir Jawa Barat,'' pungkasnya.