
Produksi rumput laut Indonesia selalu menjadi andalan untuk kegiatan ekspor dan memberi kontribusi tidak sedikit bagi nilai ekspor Indonesia. Terakhir, pada 2020 rumput laut menyumbangkan nilai ekspor hingga mencapai angka USD279 juta atau setara Rp4 triliun.
Angka yang dirilis oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu menegaskan posisi rumput laut di barisan komoditas ekspor unggulan nasional. Dampaknya, rumput laut menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir di seluruh pulau di Indonesia.
Kemudahan untuk melaksanakan budi daya dan kebutuhan modal yang tidak besar, dinilai menjadi faktor utama banyaknya warga di pesisir yang memilih untuk menjadi petani rumput laut sebagai profesi utama mereka.
Namun, WWF Indonesia merilis data bahwa produksi rumput laut mulai mengalami penurunan setelah periode 2020. Salah satu sebabnya, karena kualitas bibit rumput laut sejak periode tersebut juga mulai mengalami penurunan.
Dari Laporan Kinerja Tahunan 2021 Triwulan 3 Direktorat Jenderal Perikanan Budi daya KKP, disebutkan bahwa produksi rumput laut menurun dari triwulan tiga periode 2020 sebanyak 7,78 juta ton menjadi 7,14 juta ton pada periode yang sama 2021.
Angka yang dicapai pada 2021 itu, juga menjelaskan bahwa tidak terjadi capaian target sesuai yang sudah ditetapkan oleh KKP pada triwulan 3 sebanyak 8,45 juta ton. Kondisi itu menyebabkan pasokan bahan baku untuk industri mengalami penyusutan.
Dalam sebuah diskusi yang digelar secara daring oleh WWF Indonesia belum lama ini, kekurangan bahan baku tersebut bisa mencapai 70 hingga 120 ton per hari. Kondisi itu dirasakan sangat kuat oleh industri pengolahan dan eksportir.
Walau produksi terus mengalami penurunan, namun cara paling efektif agar produksi bisa berjalan baik, adalah dengan mengikuti kalender budi daya yang disusun berdasarkan perhitungan cuaca dan musim. Cara tersebut yang selama ini dilakukan para pelaku usaha budi daya dalam mengembangkan komoditas rumput laut.
Akan tetapi, melihat kondisi sekarang di mana dampak perubahan iklim terus terjadi, cara tersebut dinilai tidak lagi efektif karena kondisi cuaca sudah tidak menentu. Terkadang suhu bisa sangat panas dengan disertai curah hujan yang tinggi.
Menurut Chen Xuan dari PT Biota Laut Ganggang, kondisi itu mengakibatkan tumbuh kembang bibit dan pertumbuhan budi daya rumput laut menjadi terganggu. Akibatnya, jumlah produksi yang kian menurun dari tahun ke tahun.
Di lain pihak, KKP juga menyadari bahwa rumput laut adalah komoditas andalan ekspor bagi Indonesia. Fakta tersebut membuat rumput laut menjadi komoditas yang banyak dilakukan penelitian dan inovasi. Utamanya yang dilakukan oleh Badan Riset dan Sumber daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP).
Selain riset untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi rumput laut yang akan dikirim untuk ekspor, penelitian juga dilakukan untuk pemanfaatan rumput laut dalam bentuk lain. Pilihan kedua tersebut, adalah dengan menjadikan rumput laut sebagai pupuk tanaman.