
Dalam Accelerated Learning ada sejumlah prinsip belajar yang akan membuat kegiatan belajar menjadi efektif. Prinsip-prinsip belajar itu adalah sebagai berikut:
1. Belajar harus melibatkan seluruh pikiran dan tubuh
Belajar tidak hanya menggunakan ”otak” tapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi, indra dan syarafnya. Oleh karena itu dalam kegiatan belajar materi dapat diberikan melalui berbagai indera dan dapat menggugah emosi peserta. Sebagai contoh: pada saat mempelajari suatu materi dimulai dengan bermain peran, kemudian berdiskusi dengan dilatar belakangi musik lembut. Setelah itu peserta diminta menguraikan hasil diskusi dihadapan peserta lainnya secara santai.
2. Belajar adalah berkreasi bukan mengkonsumsi
Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan keterampilan baru ke dalam sturktur dirinya sendiri yang telah ada. Maka dalam kegiatan belajar peserta didorong untuk kreatif mengaplikasikan bahan yang baru dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang ditemuinya dalam kehidupannya sehari-hari. Misalnya setelah mempelajari suatu materi, peserta diminta membahas suatu kasus yang nyata dalam kehidupan mereka, atau peserta diajak mengunjungi suatu lokasi dimana mereka dapat mempraktekkan materi yang baru dipelajarinya.
3. Kerjasama membantu proses belajar
Kerjasama dengan teman-teman akan membuat pembelajar dapat belajar lebih banyak dan mempercepat proses belajar. Peserta perlu didorong untuk senang berdiskusi dan saling membantu dalam memahami materi yang dipelajari. Dengan mendengarkan pengalaman orang lain dan mendengar komentar atau kritik orang lain akan mempercepat proses pemahaman akan materi.
4.Pembelajaran berlangsung pada berbagai tingkatan secara simultan
Otak bukanlah suatu pengolah informasi secara berurutan, melainkan suatu processor paralel, dan ia akan berkembang pesat jika ditantang untuk melakukan banyak hal secara sekaligus. Dalam kegiatan belajar peserta dapat mempelajari sekaligus berbagai hal hanya dalam melakukan suatu kegiatan yang terstruktur atau terencana dengan baik. Sebagai contoh untuk mengajarkan pembukuan pada petani, maka mereka dapat bermain peran sebagai pedagang , pembeli dan petugas koperasi dimana mereka harus mencatat pengeluaran, pemasukan dan menghitung rugi-laba agar dapat memperoleh bantuan pinjaman dari koperasi. Jadi bukan hanya belajar pembukuan tapi juga belajar tentang pengkoperasian dengan segala aturan mainnya.
5. Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri (dengan umpan balik)
Belajar yang paling baik adalah dalam konteks, pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrak. Dalam kegiatan ini perlu ada peluang untuk terjun secara total, mendapat umpan balik, merenung dan menerjunkan diri kembali.Untuk kegiatan ini bisa dilakukan dengan cara magang selama beberapa waktu yang akan dievaluasi baik oleh peserta sendiri maupun mentornya.
6. Emosi positif sangat membantu pembelajaran
Perasaan menentukan kuantitas dan kualitas belajar seseorang. Perasaan negatif akan menghambat belajar, sedang perasaan positif mempercepat proses belajar. Kegiatan belajar harus dibuat menyenangkan yaitu dengan membuat variasi-variasi yang relevan dengan kondisi peserta, untuk itu dibutuhkan kreatifitas fasilitator dan ketersediaan fasilitas (tidak harus mahal dan dapat dibuat sendiri). Selain itu peserta harus merasa sebagai orang yang dihargai, tidak dianggap bodoh dan diperlakukan secara manusiawi. Misalnya: dalam kegiatan belajar hindari mengejek atau memarahi peserta yang prestasinya kurang baik, sebaliknya beri dia dorongan dan minta rekan-rekannya untuk memberikan masukan atau membantu agar dia dapat memahami materi yang disampaikan.
7. Otak-pencitraan menyerap informasi secara langsung dan otomatis
Menterjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal lebih cepat dipelajari dan lebih mudah diingat. Dalam menyampaikan materi perlu disertai dengan gambar, poster atau media visual lainnya karena sesuatu yang konkrit biasanya lebih mudah diingat . Selain itu untuk individu yang kemampuan abstraksinya rendah , visualisasi akan sangat membantunya menangkap materi yang diberikan.