
Bali - Sore itu Pak Wantra dan teman-temannya sedang mempersiapkan tali untuk menanam kembali rumput lautnya yang telah mengalami gagal panen. Tampak secercah harapan di raut wajahnya dengan memulai beraktivitas kembali ke laut yang beberapa bulan ini ditinggalkannya.
Sudah 4 bulan ini rumput laut jenis cottonii yang biasa dibudidayakan di areal Sawangan tidak menghasilkan produksi, malah mengalami kerusakan yang hebat yaitu rontok setelah di ’ ganggu’ oleh gulma dan ice-ice. Gulma yang mengganggu si cottonii adalah sejenis rumput laut juga, yang biasa disebut oleh petani lokal dengan bulung sangu ada juga yang menyebut bulung jajan. Jenis ini secara fisik menyerupai rambut yang anatomi batangnya tipis-tipis.
Oleh masyarakat lokal bulung jajan ini bisa dimanfaatkan menjadi bahan pangan untuk camilan keluarga yang dijual di sekitar wilayah tersebut. Biasanya diolah menjadi pengganti sayuran atau dimasak menjadi agar-agar.
Bahkan rumput ini dapat dijual ke pengepul lokal juga dengan harga per ’sok’ (keranjang) 6000-7000 rupiah, satu keranjang bisa mencapai 3 kg rumput kering. Oleh pengepul lokal rumput ini diolah lagi yaitu dengan mencuci menggunakan kapur dan dijemur lagi sampai kering ’normal’. Setelah dilakukan pengolahan pasca panen tersebut secara intensif di tingkat pengepul, baru dijual ke pembeli besar dengan harga yang cukup bagus yaitu 10,000 rupiah/kg. Namun walaupun ada subsitusi pendapatan dari ’gulma’, petani tidak puas dengan hal ini, karena penyusutan ’gulma’ setelah kering, sangat tinggi dan tidak semua petani, rumputnya di tumbuhi gulma. Disamping pasar untuk rumput ini tidak cukup jelas, artinya kesinambungan harga dan kebutuhan tidak bisa dijamin.
Rumput utama yang diganggu gulma, biasanya mengerdil karena tidak optimalnya makanan yang tersedia, dan berakhir dengan kerontokan. Kerusakan rumput cottonii belum dapat dipastikan apa penyebabnya, namun ada beberapa petani yang menyebutkan karena siklus beberapa tahunan, dan karena faktor cuaca yang berubah-ubah.
Kerusakan kali ini sangat parah jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, biasanya yang terjadi hanya kerontokan biasa dengan masih ada hasil panen yang dijemur, namun kali ini hasil panen sangat minim, sehingga dalam waktu 3-4 bulan itu pula petani tidak mendapatkan hasil yang optimal bahkan 2 bulan terakhir ada yang tanpa memperoleh pendapatan sama sekali. Untuk mencukupi kebutuhan keluarganya ada sebagian petani yang beralih kegiatan menjadi buruh bangunan, mencari gurita atau hasil laut lainnya.
Hampir serentak seluruh petani di Bali kecuali di Kabupaten Buleleng mengganti jenis varietas dari cottonii ke spinosum. Harapan mereka dengan beralihnya varietas rumput laut tersebut petani dapat memperoleh produksi sehingga mampu memberikan penghasilan untuk menutupi kebutuhan hidup mereka.
Penurunan usaha ekonomi petani ini dapat dilihat dari penurunan jumlah tali yang ditanam, dari rata-rata per orang 700 tali menjadi 80 tali, itupun dengan varietas yang berbeda. Bibit cottonii saat ini sulit di dapat dalam jumlah besar.
Pengadaan bibit jenis spinosum diperoleh secara cuma-cuma dari sesama petani di lingkungannya namun dalam jumlah yang kecil misal 5 ris (tali). Jadi mereka tidak mengeluarkan biaya untuk membeli bibit, lain halnya dengan di Kutuh, petani berswadaya untuk membeli bibit spinosum di Nusa Lembongan.
Perkembangan bibit spinosum sangat cepat, dari berat rata-rata 100 gram menjadi 300 gram dalam usia tanam 15-20 hari. Jika dipanen lebih dari usia itu, rumput akan rontok karena beban berat thallus, sedangkan cabang utama cukup kecil, sehingga akan memudahkan patah.
Harapan petani tumbuh lagi seiring dengan berkembangnya jenis spinosum seperti yang diharapkan Pak Wantra mengakhiri perbincangan sore itu yaitu semoga ada pasar dengan harga yang bagus untuk Spinosum. Namun di lubuk hatinya mereka tetap berharap alam dapat bersahabat kembali dengan cottonii. Karena cottonii lebih menjanjikan dilihat dari harga yang lebih tinggi, stabil, dan kejelasan pasar.