
Kupang-Bermula dari sebuah ide yang terlontar dalam sebuah training usaha rumput laut yang diadakan di Rote, 25 - 28 April 2007, yang diadakan oleh World Vision dan SeaPlantNet. Obrolan pada saat makan siang ini mencetuskan gagasan dari sebagian peserta untuk mencoba menjual bersama-sama. Jika mungkin menjual sampai ke Surabaya, maksudnya ke pabrik atau eksportir langsung. Ide sebagian peserta ini diikuti dengan pertemuan tidak resmi pada malam hari yang dihadiri oleh semua ketua kelompok petani rumput laut (peserta pelatihan), World Vision Indonesia dan SeaPlantNet.
Pertemuan santai di malam hari berlangsung singkat tapi padat. Para petani mengungkapkan keinginannya, SeaPlantNet menunjukkan informasi yang dibutuhkan untuk “menilai” potensi produksi agar bisa ditawarkan, WVI menyatakan kesediaannya untuk berusaha mewujudkannya.
Langkah pertama yang dilakukan adalah pengumpulan semua informasi mengenai usaha budidaya rumput laut anggota kelompok tani. Informasi ini tidak hanya data produksi, tetapi juga semua ongkos penjualan yang sudah diketahui oleh para petani. Dalam waktu lebih kurang 1 bulan informasi ini dapat terkumpul.
Salut untuk para pengurus kelompok tani, Pak Hendi, Pak Gerson dan motivator dari WVI ADP Rote sebagian besar informasi dapat dikumpulkan dalam waktu 1 bulan. Informasi ini diolah. Jadilah sebuah informasi yang dapat menggambarkan kondisi produksi dan pemasaran di wilayah tempat tinggal kelompok tani.
Kunjungan SeaPlantNet 11 – 16 Juni, pada setiap kelompok binaan Proyek LINTAS WVI, adalah untuk menindak lanjuti hasil pelatihan di bulan April 2007. Tetapi tidak hanya itu, teman-teman petani rumput laut menginginkan langkah nyata dalam mewujudkan penjualan bersama. Sehingga dalam kunjungan itu, sekaligus menyusun strategi untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Data-data yang diberikan kelompok tani sangat membantu penyusunan strategi ini. SeaPlantNet dan WVI mendukung perdagangan yang adil. Dengan mengolah data-data yang dikumpulkan kelompok tani diperoleh perkiraan harga yang wajar dan bisa menjadi bekal dalam negosiasi dengan pembeli.
Semangat yang dibangun adalah menciptakan penjualan yang transparan. Penjualan dengan cara ini memungkinkan kelompok mengetahui penyebab naik-turunnya harga. Untuk itu harus dibuka komunikasi antara penjual (kelompok) dan pembeli, dimanapun berada.
Akhirnya pada tanggal 16 Juni 2007, terbentuk “Dewan Rumput Laut LINTAS” Rote. Diketuai oleh Herman Da Silva dari Desa Mbueain. Dewan beranggotakan 12 orang yang merupakan perwakilan dari 6 desa. Dewan ini mewakili 644 orang anggota dari 20 kelompok petani rumput laut.
Tugas Dewan ini adalah mewakili petani rumput laut dalam berhubungan dengan pembeli. Mulai dari tawar-menawar, pemenuhan order pembelian, pemantauan harga, pemantauan kualitas, pemantauan cara pembayaran, pemantauan kondisi pasar di Rote, Kupang dan Surabaya.
Peran Dewan Rumput Laut Rote : Pertemuan Dengan Yayasan TLM di Kupang.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Dewan Rumput Laut LINTAS mengadakan pertemuan dengan Yayasan Tanaoba Lais Manekat pada tanggal 22 Juni 2007. Pertemuan ini dimaksudkan untuk menjajagi kemungkinan kerjasama pemasaran rumput laut. Masing-masing mempunyai kelebihan yang bisa diselaraskan untuk mencapai tujuan bersama. Dewan memiliki rumput laut dari anggotanya. YTLM memiliki sumber daya keuangan, jaringan transportasi, gudang, dan jaringan pemasaran. Dan yang terpenting adalah keduanya akan menerapkan pemasaran yang transparan untuk mencapai perdagangan yang adil.
Dalam pertemuan ini Yayasan Tanaoba Lais Manekat (YTLM) diwakili oleh Rozali (direktur eksekutif) dan Josh Bowen (Manajer Jasa Pengembangan Bisnis). Dan Dewan Rumput Laut LINTAS diwakili oleh Matheos Tanbaru (wakil ketua, dari Desa Kuli), Alpius Nggelan (Sekretaris, dari Desa Mbueain) dan Esau Loe (Anggota, dari Desa Oelua). Di dampingi Hendi dan Gerson (WVI) serta SeaPlantNet. Diadakan di kantor YTLM yang baru dan sejuk di Kupang.
Dimulai dengan membangun saling pengertian antara YTLM dan Dewan Rumput Laut. Dewan Rumput Laut menginginkan keterbukaan (transparansi) dalam perdagangan rumput laut. YTLM menghendaki jaminan jumlah produksi rumput laut yang dapat disediakan kelompok tani dan kejujuran kualitas rumput laut yang akan dibeli YTLM.
Dengan percaya diri, Dewan Rumput laut bernegosiasi dengan YTLM. Pembicaraan berlangsung lancar. YTLM menyampaikan semua biaya yang timbul mulai dari penimbangan di desa, pengangkutan, pengepakan, retribusi, biaya kontainer Kupang – Surabaya, biaya administrasi di pelabuhan, asuransi. Semuanya disampaikan secara terbuka dan para petani bisa melakukan pengecekan sendiri.
Dewan pun menyampaikan bahwa mereka akan menjamin tidak ada rumput laut yang tercampur dengan yang masih basah atau benda-benda lain yang tidak wajar. Standart kualitas akan dijaga karena Dewan sudah mengetahui, betapa sulit memperoleh pembeli yang dapat dipercaya. Penimbangan pun akan selalu di karena saat ini Dewan sudah memiliki timbangan gantung baru di setiap desa untuk pengecekan berat. Timbangan ini bantuan dari WVI.
Selanjutnya YTLM menyampaikan cara pengepakan yang paling effisien dan bisa dicontoh oleh para petani.
Belum terjadi kesepakatan penjualan, karena Dewan harus menghitung kembali dan menimbang-nimbang bersama para anggota. Mengingat YTLM sudah menyebutkan semua biaya, harga di Surabaya, dan manajemen fee untuk YTLM.
Banyak hal yang harus dibicarakan lagi dengan YTLM untuk mencapai kata sepakat. Faktor resiko belum dibicarakan. Mekanisme pembelian dan hal lain yang bersifat teknis masih perlu dibicarakan. Tetapi setidaknya langkah awal dan kesepahaman sudah terwujud untuk menuju pada pemasaran yang transparan dan adil.