
Oleh : Boedi JaSuDa
Seminggu setelah Skype dengan Ellen, kembali merumput di laut. Menyusuri komunitas pesisir selatan pulau Sulawesi. Kehidupan masyarakat pesisir dan keindahan laut serta ragam budaya dan tradisi menarik hati.
Sejak bertemu Dr Neish tahun 2005, rasa ingin tau tentang kehidupan pesisir dan rumput laut makin tinggi. Belajar dari ahli rumput laut dunia dan petani tak seperti belajar di laboratorium.
Seringkali kutemukan laporan hasil riset dari laboratorium tak bisa diterapkan langsung di lapangan. Bisa jadi hasil riset tak diuji multi lokasi. Hanya berlaku dua tiga siklus ketika musim tanam bagus langsung publikasi.
Bibit kultur jaringan rumput laut salah satunya. Beberapa kali kutemukan petani hanya mampu menggunakan bibit dua atau tiga siklus tanam. Setiap pergantian musim, bibit kultur jaringan rumput laut sering terkena penyakit, rontok dan hilang disapu gelombang.
Petani membutuhkan bibit yang punya daya tahan tinggi terhadap penyakit. Tetap tumbuh ketika terjadi perubahan musim. Bibit rumput laut yang diperoleh dari alam, hasil budidaya petani punya daya tahan lebih tinggi dari bibit kultur jaringan.
Buktinya bibit rumput laut alam terus tumbuh dan berkembang. Puluhan tahun petani tanam secara turun temurun berkembang dan tetap ada di lokasi yang sama. Kalaupun hilang bisa jadi karena pencemaran lingkungan atau alih fungsi lahan budidaya rumput laut.
Berbeda dengan bibit kultur jaringan. Setelah tiga siklus tanam atau kurang dari setahun bibit sering kali hilang, kurang produktif dan harus diganti bibit kultur jaringan yang baru.
Jika masalah yang dihadapi petani turunnya produktivitas, bisa jadi karena lokasi budidaya densitas atau tingkat kerapatan tanamnya tinggi. Tentu saja rumput lautnya jadi kerdil karena terjadi perebutan nutrisi.
Bisa juga petani menanam dengan bibit yang sudah tua, lambat tumbuhnya. Metode seleksi bibit bisa dilakukan untuk menghasilkan hasil panen yang tinggi.
Menanam di lokasi baru juga salah satu solusi jika ingin meningkatkan produksi rumput laut. Masih banyak lokasi yang bisa ditanami dan membuka lapangan kerja serta penghasilan baru bagi masyarakat pesisir.
Bibit kultur jaringan sangat bermanfaat jika bisa ditanam sepanjang tahun. Jika hanya ingin mendapatkan bibit yang produksi dan kadar karagenan tinggi, lebih baik menanam dan menumbuhkan rumput laut alam di lokasi yang baru. Lautan yang layak dijadikan lokasi budidaya rumput laut masih terbentang luas dari Sabang, Miangas dan Merauke.
Entah apa sebabnya bibit rumput laut alam yang dihasilkan petani ingin digantikan dengan bibit kultur jaringan. Bukankah pertumbuhan alami jadi dasar pertanian yang berkelanjutan?
Menjaga lingkungan pesisir dari pencemaran, lebih dibutuhkan petani dari pada bibit kultur jaringan. Regulasi dan proteksi lokasi budidaya dari alih fungsi lahan sangat penting. Jika tidak ada proteksi dan regulasi, budidaya rumput laut hanya tinggal cerita.
Petani sudah bisa produksi bibit sendiri dan mendapatkan hasil dari jual beli bibit rumput laut dari dulu hingga kini. Rumput laut tetap berkembang dan tumbuh subur. Namun jika lahan budidaya digusur dan beralih fungsi, tidak ada petani yang mampu bertahan.
Bibit kultur jaringan unggul yang ditanam juga tak tumbuh karena tergusur. Tak ada budidaya rumput laut lagi dan produksi turun drastis, seperti yang terjadi di beberapa daerah di Bali, Koja Doi, Tablolong dan beberapa lokasi lain.
Kembalilah ke alam, proteksi lahan rumput laut dan jaga kelestariannya. Niscaya jenis rumput laut seperti, "kulit buaya, bludru, tambalang" takkan hilang.
Kembalikan rumput laut yang hilang dan cegah pencemaran lingkungan. Menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem laut menjadi dasar budidaya rumput laut berkelanjutan.