
Wilayah Bali tidak luput dari terpaan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998. Pembangunan infrastruktur untuk mendukung pariwisata di Bali ikut terkena imbasnya, termasuk daerah Sawangan, Kecamatan Kuta Selatan, yang pada saat itu sedang berlomba-lomba melakukan pembangunan fisik. Masyarakat sekitar yang bergantung pada sektor ini menerima kenyataan pahit yaitu ’PHK’, ditambah dengan tidak mampunya memenuhi kebutuhan keluarga karena naiknya harga-harga kebutuhan pokok, dan barang lainnya.
Namun kondisi ini bukan untuk didiamkan, salah seorang warga yang mengalami keterpurukan ekonomi karena krisis tersebut, yaitu I Wayan Sumiran mulai memberanikan diri untuk berbudidaya rumput laut. Sebelumnya di wilayah Pantai Geger sudah ada sekitar 17 orang petani yang andil di dalam usaha tani ini. Mulai dari merekalah Pak Sumiran belajar untuk mendapatkan pengetahuan dalam mengembangkan usaha ini. Mengawali bertanam rumput laut bukan hal yang mudah dihadapi apalagi tiadanya modal. Untuk itu satu-satunya jalan yaitu dengan meminjam modal dari pengepul lokal di Desa Sawangan.
Teknis Budidaya
Awal mulanya ia mengerjakan lahan untuk 200 ris (bentangan tali, masing-masing berukuran 3,5 m) dengan bibit ’Saccol’ yang dikerjakan dengan tenaga kerja keluarga.
Metode tanam yang dipakai yaitu dengan metode tanam dasar. Metode ini memerlukan bahan atau alat yang dapat diperoleh secara swadaya misal kayu untuk patok. Namun petani di Geger lebih senang menggunakan besi, karena bisa dipakai untuk selamanya. Sedangkan alat lainnya berupa tali dan jaring. Jaring digunakan untuk menjaring rumput-rumput yang rontok agar tidak hanyut ke laut, kerontokan umunya disebabkan oleh gelombang besar atau penyakit. Hal tersebut dilakukan supaya petani tidak terlalu banyak kehilangan hasilnya.
Semakin lama jumlah ris yang dimiliki semakin bertambah, yang semula 200 ris sekarang bertambah menjadi 2000 ris hasil dari modal sendiri.
Ada beberapa kiat yang diterapkan oleh Pak Sumiran agar sepanjang waktu rumput laut mampu berproduksi, walaupun tidak dalam jumlah yang tetap atau lebih banyak. Untuk musim ini (Maret-Mei) produksi mengalami penurunan. Kiat-kiat yang dilakukannya adalah dengan membuat 4 lokasi lahan yang berbeda, yang terbentang mulai dari pinggir pantai, di tengah, dan semakin ke tengah. Dari 4 lokasi tersebut dilakukan sistem rotasi tanam. Lokasi tepi pantai hanya digunakan untuk pembibitan, setelah usia bibit sekitar 2 minggu baru dipindah ke lokasi yang di tengah sampai usia panen yaitu 45 hari. Dengan pengamatan seksama perilaku rumput laut terhadap musim akan menguntungkan petani dalam mengatur pola tanamnya.
Dengan semakin berkembangnya areal tanam, ia memerlukan waktu dan tenaga kerja yang lebih banyak. Semula cukup dengan tenaga kerja keluarga yang terdiri istri dan orang tua, namun semenjak arealnya bertambah ia menggunakan tenaga kerja luar. Tenaga kerja ini hanya mengerjakan beberapa jenis pekerjaan misalnya mengikat bibit, mengangkut dari dan ke darat, menjemur, menyortir dan ’packing’. Biaya per hari per orang baik laki-laki atau perempuan sebesar Rp. 25,000. Rata-rata waktu yang digunakan untuk mengelola pekerjaan ini selama 8 jam per hari dan rata-rata penggunaan tenaga kerja luar sejumlah 2-3 orang. Pembayaran dilakukan setelah panen terjual atau sebulan sekali dihitung dari lamanya hari kerja.
Setiap hari Pak Sumiran bekerja memutar rumput laut dari pembibitan, memindahkan bibit untuk dibesarkan, dan pemanenan. Pekerjaan ini dimulai pada saat menjelang surut air laut sampai air laut pasang kembali. Jadi setiap harinya tidak selalu dimulai pada saat jam yang sama.
Rerata produksi yang dihasilkan pada musim normal per bulannya mencapai 1 – 1,5 ton dengan harga Rp. 5000/kg. Pada saat musim bagus mencapai 2 ton per panen, dan pada saat musim jelek sekitar 800 kg. Fluktuasi harga di Sawangan tidak begitu mencolok hanya bekisar Rp 100-200/ kg dalam setiap tahunnya.
Kendala Teknis
Kendala yang menyebabkan produksi petani berkurang bahkan mengalami yaitu pada saat gulma, ’ice-ice’ dan penyakit busuk batang datang. Pada saat ini pertumbuhan terhambat bahkan rumput cenderung rontok. Sehingga petani hanya melakukan pembibitan saja dan panen muda, karena jika terlalu lama ditanam akan rontok.
Kendala Sosial
Kawasan Sawangan merupakan salah satu target untuk pengembangan pariwisata. Kondisi ini membuat petani khawatir akan nasibnya kelak. Harapan petani penataan bagi keduanya yaitu pariwisata dan budidaya rumput laut akan saling memberikan kontribusi satu sama lain, sehingga tidak perlu ada yang dikorbankan.
Tidak Hanya Sukses Bagi Keluarga
Disamping menjalankan usaha ekonominya untuk keluarga, Pak Sumiran juga mengalokasikan waktunya untuk kegiatan-kegiatan sosial yaitu sebagai Pemangku Adat dan sebagai Ketua Kelompok Geger Samudra Indah yang beranggotakan 93 orang. Kelompok ini mulai dibentuk pada tanggal 26 Juli 1998. Pembentukan kelompok atas inisiatif bersama dengan PPL pada saat itu untuk kembali merangkul petani dalam suatu wadah agar lebih kuat dalam mengatasi kendala-kendala yang ada terutama kendala sosial.
Selama kurun waktu 5 tahun ia berbudidaya rumput laut, pada tahun 2004 mampu memberikan kontribusi lebih kepada keluarga yaitu dengan membangun ’Pura Keluarga’, dengan berhasilnya membangun Pura ini semakin memberikan keyakinan bahwa rumput laut akan terus mengalirkan rejeki.