
Polysiphonia merupakan hama (epiphytes) pengganggu tanaman Kappaphycus alvarezii yang sangat berbahaya. Pertama kali ditemukan menyerang tanaman K. alvarezii di Filipina pada tahun 2000, yang dilaporkan oleh Jesse Shubert, seorang volunteer dari American Peace Corp. Voulenteer (Hurtado A.Q, 2005) .
Sekarang ini, kasus hama polysiphonia kembali ditemukan di P. Nain, Sulawesi Utara oleh tim peneliti dari Universitas Sam Ratulangi, Manado. Di duga, hama ini menjadi penyebab utama terjadinya penyakit tanaman yang mereka sebut sebagai “ice-ice”.
Polysiphonia merupakan mikroalgae dari kelas alga merah yang bentuknya seperti benang halus silindris dan umumnya ditemukan diperairan pantai tropic. Algae ini termasuk jenis epiphytes karena dapat merusak tanaman inangnya. Menurut Jan Parmentier (1999), algae merah umumnya ditemukan menempel pada bebatuan atau pada tanaman algae lainnya sehingga sebagian bersifat parasit.
Bagaimana tanda-tanda tanaman terserang polysiphonia?
- Terjadinya bintik-bintik hitam pada thallus. Bintik-bintik tersebut adalah spora polysiphonia yang berada didalam jaringan dan siap menjadi tanaman dewasa.
- Bintik-bintik tersebut kemudian berkembang menjadi filament-filamen halus seperti rambut yang menempel erat dari dalam jaringan tanaman.
Lihat gambar tanaman jenis ”cottonii banci” (nama lokal) yang terinfeksi oleh polysiphonia di P. Nain
(Foto oleh: Kamaluddin)
Morfologi polysiphonia.
Foto oleh: Jan Parmentier
Factor-faktor apa saja yang menjadi pemicu terjadinya serangan polysiphonia?
- Kondisi kesehatan tanaman K. alvarezii itu sendiri seperti defisiensi nutrisi dan diskolorisasi
- Kondisi perairan yang tenang (kurangnya pergerakan air)
- Suhu air yang ekstrim
- Salinitas yang rendah
- Tingkat kekeruhan yang tinggi
- Intensitas cahaya yang berlebihan
Mengapa polysiphonia ini berbahaya?
- Hama ini dapat merusak tanaman dalam waktu yang singkat (haya dalam hitungan beberapa hari)
- Polysiphonia langsung menyerang jaringan tanaman baik pada bagian intercellular, berhubungan dengan pengrusakan cortical atau bahkan lapisan medular.
- Menyerang secara serempak sehingga sulit untuk mendapatkan tanaman yang benar-benar steril untuk dijadikan bibit pada musim tanam berikutnya.
Bagaimana cara meminimalisasi dampak buruk polysiphonia?
- gunakan tanaman yang tidak terinfeksi, bersih dan nampak sehat untuk dijadikan bibit.
- pilihlah lokasi budidaya yang bersih dengan kondisi arus yang sedang atau sedikit kuat, hindari menanam pada lokasi yang berdekatan dengan sumber limbah rumah tangga
- Jika sudah terdapat tanda bintik hitam pada thallus tanaman, segera pindahkan tanaman ke area yang arusnya kuat dengan kondisi intensitas cahaya yang lebih baik.
- Kunjungan yang sesering mungkin untuk memastikan tanaman dalam keadaan membaik dan melakukan pengamatan terhadap suhu, kadar garam, kecerahan dan arus.
Apa yang harus dilakukan jika tanaman terlanjur terinfeksi oleh polysiphonia:
- segera panen seluruh tanaman
- jangan menggunakan cabang tanaman yang telah terinfeksi sebagai bibit untuk mencegah transfer penyakit dari satu tanaman ke tanaman yang lainnya.
- Jangan menggunakan lokasi budidaya yang telah terinfeksi pada siklus berikutnya. Meskipun agak sulit dilakukan, tetapi metode ini diharapkan dapat memutus mata rantai daur hidup polysiphonia.
Referensi :
AQ Hurtado, Dr, Kappaphycus ‘cottonii’ farming, Food Ingredients/BL Texturant Systems. Degussa Texturant System France SAS Rue de Seves, Baupte 50500. France, 2005.
Jan Parmentier, Polysiphonia, a red algae, www.microscopy-uk.org.uk, 1999.