
?Senangnya bisa melihat bagaimana rumput laut diproses di pabrik, mengenal Bapak-Ibu para pengolah rumput laut dan bisa menanyakan spesifikasi rumput laut yang mereka butuhkan, ini merupakan kesempatan yang sangat berharga yang kami dapatkan dari SEAPlant Net?, demikan kata Pak Kadir, ketua KSU Koja Jaya.
Kegiatan ini merupakan wujudnyata dari missi SEAPlant Net dalam menghubungkan petani rumput laut dengan industri pengolah rumput laut secara transparan, etis dan berkelanjutan.
6 prosessor dalam negeri (PT Gumindo Perkasa Industri, PT Amarta Sarilestari, PT Seatech Carageenan, PT Giwang Citra Laut, PT Indonusa Algaemas Prima dan PT Indo Marina Alga) dan PT Bina Makmur Sejahtera (Exportir) serta 5 Koperasi Petani Rumput Laut (KSU Koja Jaya, KSU Langkah Bersama Dambila, CU Ankara unit Waowala, KSU Mina Usaha Bersama Tablolong dan KSU Mekar Laut Palilolon) hadir dalam temu bisnis di Resto Nine Surabaya. Ke lima Koperasi tersebut didampingi oleh Hendra (Koordinator SEAPlant Net untuk wilayah Timor) dan Donatus (Koodinator SEAPlant Net wilayah Flores). Selain itu kegiatan ini juga dihadiri oleh WVI Rote dan Yayasan Tani Iliboleng Flores Timur.
Dalam diskusi terungkap bahwa semua prosessor yang hadir mengalami kesulitan karena seringnya mutu rumput laut yang mereka terima berubah-ubah. Tidak jarang prosessor mengalami kerugian karena mutu yang tidak baik. Sebagai contoh menurut Bu Iin dari Gumindo, belakangan ini mutu rumput laut dari Tablolong yang diterimanya sangat buruk karena rumput laut tersebut berwarna putih (kemungkinan besar terendam air tawar), lain lagi dengan pak Yohanes yang juga mengakui bahwa baru kali ini mereka mendapat rumput laut yang tidak baik dari Larantuka, yang membuatnya rugi belasan juta rupiah. Pak Zakarias dari Tablolong mengakui bahwa benar rumput laut tersebut direndam sebelum dijemur, sesuai permintaan pembeli, namun demikian si pembeli tidak datang kembali, sehingga mereka mencampur dengan rumput laut yang tidak putih. Pak Ali Sili dari Palilolon pun mengakui hal yang sama untuk rumput laut Larantuka.
Pak Hariadi dari PT Indo Marina Alga menjelaskan pentingnya mengintegrasikan pendampingan teknis budidaya dan pasca panen dengan perubahan mental dan perilaku. Diakui bahwa secara teknis budidaya petani lebih pintar namun seringkali keinginan untuk cepat mendapatkan banyak uang mendorong mereka mengambil jalan pintas untuk untuk tidak mempedulikan mutu, seperti mencampur rumput laut dengan garam, pasir dan lain sebagainya.
Selain itu Pak Yohanes dari Seatech Carrageenan mengharapkan bisa mendapatkan lebih banyak rumput laut dari NTT, 9 ton rumput laut yang diterimanya dari KSU Kojajaya dinilai memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.
Pertemuan diikuti dengan kunjungan ke Seatech Carageenan di Pasuruan dan ke PT Indo nusa Algaemas Prima di Malang. Para petani dizinkan melihat proses-proses yang dilakukan di pabrik, mulai dari pembersihan rumput laut (pengayakan) ? pencucuian ? pemasakan dan penjemuran. Pak Handoyo dari Indonusa sangat berharap para Koperasi yang hadir bisa segera melakukan bisnis yang berkesinambungan dengan pihaknya.
Persyaratan umum yang diterapkan oleh para prosessor :
? Kadar air Maksimal 35 ? 37 %
? Kadar kekotoran Maksimal 2 %
? Umur panen 45 hari
? Bukan Baceman (digarami)
? Tidak tercampur (misalnya dengan spinosum)
? Tidak berjamur
? Bukan yang halus (bibit local)
Tertarik untuk kerjasama, kirimkan sample untuk diperikasa di lab. para processor. Alamat para processor dapat menghubungi jasuda.