
Tangan-tangan kecil itu sibuk memungut rumput laut yang tercecer dipinggiran pantai, sesekali memasukkannya kedalam kantong plastik yang dipegang pada tangan sebelahnya. Rupanya anak kecil yang tidak berbaju itu memunguti rumput laut yang jatuh dari keranjang para bapak Petani yang diangkat dari sampan ke darat. Dari pagi hingga sore hari, anak-anak kecil itu bisa memungut hingga 3 kg basah saat para petani habis panen. Hasil pungut tersebut kemudian diserahkan ke ibu-ibu mereka, atau ada juga yang menjual langsung kepada pembeli seharga Rp.1000 perkilonya. Hasilnya buat “ Ammalli Golla-golla na Karoppo “ (buat beli kembang gula dan kerupuk, Makassar) kata Kasma, seorang anak perempuan berumur sekitar 5 tahun, yang kata ibunya akan dimasukkan sekolah tahun depan.
Sementara itu, dibawah kolong rumah panggung yang terbuat dari papan, bambu dan beratap rumbia, disitu ada beberapa perempuan yang sibuk mengikat bibit rumput laut. Ada seorang ibu yang mengikat bibit sambil memangku seorang anak balita, adapula seorang nenek dan beberapa orang gadis. Seharinya mereka bisa mengikat bibit hingga 5 bentang perorang (1 bentang sepanjang sekitar 25 meter, dengan ikatan bibit 2 ikat berjarak antara 8 – 10 cm). Jika mengikat bibit petani lain yang menyuruh khusus untuk mengikat bibit, biasanya mereka dibayar Rp 1350 tiap bentang (di Dusun Korongbatu, desa Baruga, Bantaeng). Kata seorang ibu, di Bontobahari-Bulukumba biasanya perempuan dibayar untuk mengikat bibit seharga Rp.1500 – Rp.1750 tiap bentang dengan panjang yang sama. Jarang ada lelaki yang mengikat bibit rumput laut karena kata Jufri, seorang petani dusun Korongbatu ini, lebih banyak bibit yang patah saat mengikat jika yang kerjakan laki-laki. Sayangnya, tangan kami jadi ‘puru-puru’, kata seorang ibu sambil memperlihatkan bercak-bercak ditangannya (sejenis kurap akibat jamur atau bakteri, mungkin karena tidak dicuci bersih sehabis mengikat bibit rumput laut).
Setelah harga rumput laut lebih baik dan dapat tumbuh subur disepanjang pantai dusun Korongbatu-Bantaeng ini, banyak nelayan yang kini sudah beralih mata pencaharian dari memancing dan menjaring ikan ke usaha budidaya rumput laut, meski tetap memancing sesekali jika semua bibit sudah terpasang dilaut. Bahkan beberapa Petani Jagung dan Padi dari wilayah Eremerasa’ (sekitar 15 km dari pantai di wilayah berbukit kabupaten Bantaeng) kini turun bukit ke sekitar pantai ini untuk menanam rumput laut. Dan membangun pondok-pondok kecil dengan membawa serta keluarga mereka di pesisir pantai Korongbatu ini. “ Kami bersyukur Tuhan menurunkan rumput laut yang bisa dipelihara dan laku terjual, hingga kami bisa membeli beras “ kata Pak Jufri, sambil mengikat botol pelampung ditangannya. (iv)